Senin, 24 Maret 2025

Haruskah aku kembali pada diriku yang dahulu agar dirimu dapat jauh lebih mencintaiku?

Ini merupakan tulisan pertamaku, tanpa menyebutkan siapa diriku. Aku tidak ingin orang-orang mengenalku. Biarlah tulisan ini menjadi tanda bahwa aku merupakan orang yang overthinking.

Aku hanyalah seorang perempuan berusia 18 tahun yang dikelilingi oleh berbagai pikiran, terkadang mengusikku, yang tak lain bisa jadi hal positif maupun negatif. 

Aku memiliki seorang kekasih, ini merupakan cinta pertama yang kujalin bersama orang lain, dia berusia lebih tua dariku. Aku tak pernah berpikir untuk menyukai pria bahkan menjadi kekasihnya. Pria ini benar-benar mengambil hatiku dengan rapi.

Mengapa rapi? Karena ia tidak terburu-buru dalam merebut hatiku, tetapi perlahan-lahan dengan cara yang menurutku luar biasa hebat. Salah satu alasan mengapa ku jatuh cinta padanya. Mari kita sebut pria ini dengan nama Sabo. 

Aku tidak akan menceritakan bagaimana Sabo merebut hatiku. Tapi jika kalian mau, silakan beritahu di kolom komentar. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kurasakan saat ini.

Dia adalah pria yang dulunya sangat tergila-gila padaku. Seiring berjalannya waktu, kini kusadari bahwa dirikulah yang sekarang tergila-gila kepadanya. Aku mengira bahwa jika aku mengungkapkan cintaku, maka ia akan kembali merespon dengan cinta yang lebih besar. Nyantanya tidak.

Aku bahkan sering memujinya, karena ia memang benar-benar tampan dimataku, tetapi ia tidak merespon dengan pujian tersebut. Ia lebih memilih untuk membicarakan topik lain.

Aku sangat merindukannya. Kami sedang berada di pulau yang berbeda. Jarak menguji kami. Aku sangat berharap dia sering menghubungiku, tapi kurasa ia begitu sibuk. Aku tidak ingin mengganggunya, biarlah dia fokus pada apa yang jelas di depan matanya. Aku hanyalah seseorang yang jauh dari pandangan.

Aku ingin diperhatikan. Aku ingin lebih diajak bicara. Pesan darinya adalah hal yang selalu kutunggu. Seringkali diriku terjaga di malam hari hanya untuk menunggu pesan darinya yang bertuliskan goodnight, baby

Kemarin malam, tidak ada pesan tersebut yang sampai ke ponselku. Sedih? Pastinya. Jika aku mencurahkan isi hatiku kepadanya, aku takut ia merespon jauh dari ekspektasi, yang mana akan lebih menyakitkan bagiku. Memendam rasa memanglah perih, tapi caraku meredakannya adalah dengan menuliskan perasaanku di laman blog ini.

Biarlah aku dan pikiranku bertarung tentangnya. SadFact, aku masih menunggu pesan darinya. Apakah perlu aku yang mengirim pesan dahulu? Tetapi tidak baik jika aku yang selalu membuka topik pembicaraan. Dia harus bisa jauh lebh peka jika memang dia benar-benar mencintaiku. 

#Fightw/Minds
Apakah perlu aku kembali seperti dahulu (tak mengenal cinta) agar diriku bisa jauh lebih dicintai? 
Mengapa ketika diriku mulai tergila-gila padamu, dirimu mulai kehilangan perlakuan manis kepadaku? 
Kau tau, aku butuh perhatian darimu. Tapi mana mungkin aku mengganggumu pada waktu sibuk, kan?
Kumohon, diriku saat ini sangat membutuhkan kasih sayangmu. Jangan mengurangi kasih sayangmu untukku. Aku mencintaimu, kuharap dirimu juga merasakan hal yang sama.

Haruskah aku kembali pada diriku yang dahulu agar dirimu dapat jauh lebih mencintaiku?

Ini merupakan tulisan pertamaku, tanpa menyebutkan siapa diriku. Aku tidak ingin orang-orang mengenalku. Biarlah tulisan ini menjadi tanda b...